SMP Isriati dan SMK Islamic Center Vaksinasi 600 Siswa, Ini Kata Prof Ahmad Rofiq

2792534408

Dikutip dari PORTAL PEKALONGAN – Prof Ahmad Rofiq, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam ( YKPI ) Masjid Raya Baiturrahman menyatakan bahwa Selasa, 31 Agustus 2021 SMP Isriati dan SMK Islamic Center ditunjuk Walikota H Hendrar Prihadi MM untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi para siswa kedua sekolah yang berada di bawah naungan (YPKPI) yang berada di Kawasan Islamic Center Manyaran.

Ini karena, sejak Senin, 30 Agustus 2021 kedua sekolah tersebut, dipercaya sebagai sekolah ujicoba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Semarang.

Vaksinasi di SMP Isriati dan SMK Islamic Center Manyaran akan diikuti 600 siswa dari kedua sekolah tersebut.

“Ini menunjukkan komitmen negara dan semua pihak utamanya generasi pelajar yang 15-20 tahun ke depan akan menjadi para pemimpin bangsa dan negara ini, harus dinomorsatukan Kesehatan, pertumbuhan, dan ketangguhannya,” kata Prof Ahmad Rofiq yang juga Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah.

Apalagi di dua sekolah ini selain kecerdasan intelektual menjadi prioritas, kecerdasan spiritual juga diprioritaskan, agar mampu melahirkan kecerdasan emosional yang terpandu oleh rambu-rambu ajaran agama yang mampu menyeimbangkan antara jiwa dan raga, jasmani dan rohani, iman, islam, dan ihsannya berjalan secara mantab, dan integral antara iman dan taqwa serta ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Menurut Prof Ahmad Rofiq yang juga Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah itu, jalannya uji coba masih memang masih dengan blended-model (model-campuran) antara daring (dalam jaringan) dan luring/offline (luar jaringan) sebagai bentuk kehati-hatian atau mitigasi risiko meminjam bahasa perbankan.

Karena pandemic Covid-19 di Kota Semarang ini, beberapa waktu lalu sempat membuat ciut nyali, karena memasuki zona merah tua atau bahkan hitam.

“Karena itu, kalaupun PPKM diperpanjang dalam level 1-2, kehati-hatian itu harus tetap terus dibiasakan, dengan cara mematuhi protokoler kesehatan secara ketat,” kata Prof Ahmad Rofiq yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) .

Lebih jauh Prof Ahmad Rofiq, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, menyatakan satu setengah tahun lebih, pandemic Covid-19 memaksa mengalihkan pembelajaran dengan tata muka ke model daring atau online, yang pada awalnya membuat pemerintah, para guru, orang tua, siswa, dan masyarakat terdampak langsung.

Bukan hanya persoalan kesiapan tekhnologi saja seperti: laptop, smartphone, jaringan wifi, kuota, tetapi di awal-awal pandemi mulai Maret 2020 semua pihak harus tergagap-gagap dengan segala permasalahan yang menyertainya.

Semua pihak harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, dengan majelis zoom-iyah, googlemeet-iyah atau google-classroom-iyah, dan lain sebagainya.

Bagi para guru memang membutuhkan ekstra kesabaran dalam pembelajaran daring, karena tidak jarang mereka mengikuti, akan tetapi video-nya ditutup, sehingga tidak dapat dipastikan apakah mereka memang aktif, atau tidak, atau dilakukan dengan kegiatan lainnya.

Inilah salah satu dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau Pembelajaran On Line (POL) yang tidak mampu menjangkau pada domain psikomotorik dan afektif.

“Karena itu, pada 25 Agustus 2021 lalu Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah menggelar webinar Pendidikan mengusung tema ‘Mencegah Lost Generation Dampak Pandemi’ bukan karena MUI menyimpan kekhawatiran yang berlebihan, akan tetapi sebagai bagian warning atau tanbihāt agar semua fihak waspada, akan risiko-risiko negatif atau setidaknya kekurang efektifan proses pembelajaran jarak jauh secara online.”

Apakah hingga tulisan ini masih ada yang tidak percaya adanya Covid-19? Apakah mereka juga tidak percaya pentingnya vaksinasi Covid-19 sebagai ikhtiar manusia untuk menghindari terpapar Covid-19?

“Boleh jadi masih ada, dan itu saya yakin hanya sedikit. Karena sekarang ini, negara hadir untuk selain memulai adaptasi baru belajar secara PTM, juga demi menyelamatkan generasi muda, yang dijamin hak-hak merekab oleh UUD 1945, maka vaksinasi untuk mencegah Covid-19 adalah bagian dari usaha atau ikhtiar yang wajib dilakukan dan diikuti. Prioritasnya adalah untuk siswa-siswi SMP ke atas, usia 12 tahun ke atas,” kata Prof Ahmad Rofiq yang menjadi Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang.

Para Ulama bijak merumuskan kaidah “dar’u l-mafāsid muqaddamun ‘alā jalbi l-mashālih” artinya “menghindari kerusakan itu didahulukan atas menarik kemashahatan”. Juga “al-wiqāyah khairun min al-‘ilāj” artinya “menjaga itu lebih baik dari pada mengobati”.

Selamat SMP Isriati dan SMK Islamic Center YPKPI, terima kasih Pak Walikota, Pak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Semarang, Kepala Sekolah SMP Isriati Pak Eka Putranto, Kepala SMK Islamic Center Pak Ilham, dan seluruh sivitas akademika kedua sekolah tersebut. Syababuna l-yaum rijaluna l-ghad. Hari ini kalian masih pemuda-pemuda, dan kelak akan menjadi pemimpin bangsa ini. Insya Allah.

Editor: Ali A

Sumber: https://portalpekalongan.pikiran-rakyat.com/semarang/pr-1912498974/smp-isriati-dan-smk-islamic-center-vaksinasi-600-siswa-ini-kata-prof-ahmad-rofiq?page=3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*